Jumlah pendengar lagu SMS yang semakin membengkakbagaikan sel tumor yang sedang membelah (dari history.nih.gov)
Belum lihat video clip dan dengar lagunya? Klik di sini
Jumlah pendengar lagu SMS yang semakin membengkak

There definately has to be civilians trapped in a blow like this (Picture courtesy of Yahoo News)
Hey America and UN!!! Continue to support Israel OK? You guys are doing a fantastic job... No need to issue an immediate ceasefire. Rice is right (or is she?)!! A cease fire will just INCREASE THE TENSE AND THE KILLINGS! Everybody stupid enough (including Rice) knows that cease fires are used to ignite larger war, and not to stop the ongoing one (yeah right...) . Let the people die at this rate. No need to change the death rate, or more else stop it.
For the rest of the world (including me of course), the only thing we can do now is to grumble, watch and of course pray for everyone's best and so that we will all learn from this international tragedy... As we all know, in the time being, most of us are helpless.
A MILITARY AGGRESSION towards another country in order to eliminate a group of criminals (depends on your point of view) is justifiable to protect the people of your own country. The hell with the people living in other countries. They are just not that important!! They are dispensable!! Isn't that right!!?? KILL KILL and KILL.
And so, another military aggression has been launched, and the culprit will almost definitely get away with it. Because we all know that there are several untouchables in the worlds political stage, which can get away with almost everything they do. And Israel is among them (guess the other one yourself). After Iraq and Lebanon, who will come next? Iran? North Korea? Or maybe even Indonesia? Watch out world...

One of these baby's might be heading in your direction someday (Picture courtesy of Yahoo News)
OK, enough with the sarcasm... I'm getting confused myself.
I'm not a political analyst and I may not have the qualifications for writing an analysis on this matter, I just need to get the emotion out. What I know is that WAR is WAR and we should do everything in our powers to stop it.
May our Lord give us the ability to see the good, the hikmah and the lessons in everything that happens around us. And may our Lord give blessing towards all the people in repression, in their life and in their death....

Jamarat. Perlambangan Syaitan yang menggoda Ibrahim ketika menjalankan perintah "Korbankan Ismail".
Sebagai manusia, seringkali kita lupa akan keterbatasan dan kelemahan kita. Sering sekali kita merasa hebat. Lebih hebat daripada makhluk lain, lebih hebat daripada manusia lain, bahkan seringkali secara tidak sadar kita merasa lebih hebat daripada Tuhan. Padahal manusia tidaklah begitu hebat.
Manusia penuh dengan keterbatasan dan kelemahan. Dan selamanya akan seperti itu. Kelemahan yang harus selalu diingat dan diwaspadai adalah terbatasnya kemampuan otak kita. Semua informasi yang diterima manusia diproses oleh otak. Sinyal-sinyal melalui panca indera diteruskan dan kemudian diinterpretasi oleh otak kita. Jadi sebenarnya hidup yang kita rasakan ini adalah interpretasi dari otak kita semata. Kita akan selalu terpenjara di dalam otak kita selama kita hidup. Interpretasi-interpretasi yang sama sekali belum tentu nyata.
Kebahagiaan atau kesengsaraan sejati baru akan dirasakan seorang manusia ketika ia mengecup kematian. Pada saat itu, hubungan seorang manusia dengan fisiknya di dunia akan terputus. Ia akan mampu melihat dan merasakan hakikat dari segalanya. Tanpa dibatasi oleh tembok-tembok indera. Saya berharap, ketika saat itu tiba, kebahagiaan sejati yang saya rasakan. Bukan penyesalan dan kesedihan. Dan semoga kebahagiaan sejati dirasakan juga oleh semua yang berhak mendapatkannya.
Transisi
Terang ditelan gelap
Ceria ditelan sedih
Kebenaran ditelan kejahatan
Hidup ditelan mati
Begitulah dunia ini apa adanya
Tiada ada yang abadi selamanya
Hanya Dia yang akan selalu ada
Bertahta di atas singgasanaNya
Apalah daya seorang manusia
Ketika kuasanya ada batasnya
Menyesal tidaklah berguna
Sang hati kan terus menderita
Melepas pekatnya benci
Mampu menerima transisi
Adalah kekuatan yang tiada tara
Arungilah dunia sebagai ksatria
*A tribute to my Uncle, who went to meet the call of his Lord on January the 1st 2006.*
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un
Telah berpulang ke Rahmatullah Om Yana di Tasikmalaya. Semoga Arwah beliau diterima dengan baik di sisiNya. Diterima amal ibadahnya, diampuni segala dosa dan kesalahannya. Aamiiiin.
Pernahkan anda mengalami musim gugur? Daun-daunan yang tadinya berwarna hijau segar oleh klorofil, berubah warna melalui serangkaian metabolisme yang rumit. Dedaunan berubah warna menjadi kuning, merah, dan jingga, bergantung pada jenis tumbuhannya. Pemandangan semacam ini sangat menarik, dan indah.
Gugurnya dedaunan pada tumbuhan disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya karena faktor suhu, kelembapan udara, intensitas cahaya matahari, dan lain lain. Walaupun indah dilihat, gugurnya daun terjadi akibat tekanan-tekanan eksternal tersebut. Saya menggarisbawahi “tekanan” karena hal inilah yang menjadi faktor utama terjadinya gugur daun.
Memasuki musim dingin, semua daun berguguran, kemudian tumbuhan akan memasuki masa dorman, mati suri, di mana metabolisme di dalam tumbuhan hampir sama sekali tidak terjadi.
Musim Gugur di Indonesia
Saat ini, di Indonesia juga sedang terjadi "musim gugur". Namun yang gugur adalah kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya, norma-norma budaya di dalam masyarakat, dan lain-lain.
Gugurnya Kepercayaan Rakyat terhadap Pemimpin
Kepercayaan rakyat kepada para pemimpin akan gugur apabila pemimpin bertindak tidak mampu bersikap amanah. Hal ini akan terjadi pada pemimpin manapun, bahkan kepada yang dipilih secara demokratis sekalipun. Hal ini terjadi di Indonesia. Seperti gugurnya dedaunan pada tumbuhan, gugurnya kepercayaan terjadi akibat tekanan-tekanan yang dialami masyarakat. Tekanan yang terjadi diantaranya dalam wujud kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat.
Kebijakan-kebijakan yang tidak bersahabat kepada rakyat bertubi-tubi diluncurkan oleh para petinggi-petinggi kita. Diantaranya adalah keputusan pemotongan subsidi BBM sehingga terjadi kenaikan harga hampir sebesar 100%, pengesahan Undang-Undang menaikkan tunjangan fungsional anggota DPR (yang sering tidak hadir / tidur saat sidang) sebesar 10 juta rupiah, kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras (padahal petani masih sanggup memenuhi kebutuhan dalam negeri), dll. Kebijakan-kebijakan tidak populis ini sangat memberatkan rakyat. Tidak ada empati terhadap kondisi rakyat!!!
Para Anggota Dewan yang sedang Berusaha Keras Memperjuangkan Nasib Rakyat (tapi sedikit mengantuk)
Akankah kepercayaan kepada para pemimpin gugur sepenuhnya?
Gugurnya Norma-norma dan Budi Pekerti di dalam Masyarakat
Setiap hari, dalam koran atau media masa lainnya, kita dapatkan judul-judul yang menyedihkan, seperti, “Pemuda Bunuh Diri karena Tidak Dibelikan Handphone”, “Siswa SMU Melakukan Pesta Mesum di dalam Kelas”, dan lain-lain (silakan anda buka koran hari ini). Norma-norma yang pernah saya pelajari di SD dan SMP seperti bersabar, menjaga harga diri, saling tolong menolong, rajin menabung, agaknya perlahan lahan mulai ditinggalkan oleh rakyat kita. Teori-teori PPKn dan PMP sepertinya sudah mulai usang dan diganti dengan sesuatu yang lebih mutakhir.
Tekanan-tekanan yang berkontribusi terhadap gugurnya norma-norma di dalam masyarakat ada banyak sekali. Tekanan yang paling terasa adalah tekanan budaya konsumerisme yang menjamur melalui banyak jalur. Konsumerisme ini tidak diimbangi oleh kenaikan daya beli, sehingga terjadilah banyak kejadian-kejadian “aneh” seperti yang diliput di dalam media masa. Kemudian ada juga faktor tekanan budaya barat (kebebasan berbicara dan kebebasan bertindak(as in free sex)) yang membuat masysarakat menjadi tidak terkendali. Budaya asli Indonesia (entah budaya apa) terobrak-abrik tidak jelas. Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa canggung untuk berbuat yang salah..
Akankah norma-norma yang dulu pernah diajarkan kepada saya dan generasi saya di dalam pelajaran PMP dan PPKn gugur sepenuhnya?
Musim Gugur Berlanjut ke Musim Semi
Musim gugur diikuti oleh musim dingin, dan kemudian diikuti oleh musim semi. Kita semua tahu bahwa musim semi sangat indah. Bunga-bunga bermekaran, pepohonan menghijaukan daunnya kembali, hewan-hewan aktif kembali, dan suhu kembali menjadi nyaman.
Akankah Indonesia mengalami "musim semi" di masa depan? Ketika rakyat dapat menaruh kepercayaan penuh kepada para pemimpin. Ketika para pemimpin habis-habisan memperjuangan nasib rakyatnya? Ketika norma-norma dalam masyarakat kembali dihormati dan menjadi penyeimbang di dalam masyarakat?
Hanya WAKTU dan USAHA kita yang dapat menjawab semuanya. Semoga kita dapat berkontribusi terhadap perbaikan Indonesia. Semoga "musim dingin" atau "musim kemarau " berkepanjangan tidak selamanya melanda Indonesia.
Suasana Demonstrasi di Main Campus Kyoto University

Kampus yang kembali sepi setelah Demo
Kemampuan empati manusia di negara-negara maju jauh lebih baik dibandingkan dengan manusia di negara berkembang, lebih-lebih apabila dibandingkan dengan negara terbelakang. Pembunuhan massal Bush di Iraq dengan "mesin" Amerikanya, atas dasar kepentingan ekonomi semata (untuk mengatur harga minyak dunia) pasti membuat geram orang yang mampu berpikir. Kegeraman ini membuahkan kebencian terhadap Bush dan kroninya. Kebencian itu bahkan datang dari rakyatnya sendiri.
Nilai kemanusiaan universal telah diinjak-injak, bentuk reaksi yang muncul adalah kebencian universal dari penduduk dunia. Bush dan Amerikanya boleh menguasai ekonomi dunia, tapi bisa jadi suatu saat kepentingan materi yang dikaitkan dengan ekonomi akan tidak berarti. Pada saat itulah (mungkin) kita bisa menyaksikan letusan benih-benih kebencian yang telah termanifestasi. Sebagian orang akan melihatnya sebagai kembang api yang indah, dan sebagian lagi akan melihatnya sebagai bom yang dahsyat. Maybe...
Sedikit Mengenai Demo di Indonesia
Di dalam melakukan demo ini, teman-teman di Kyoto University agaknya memperhatikan beberapa hal yang memang HARUS diperhatikan oleh para perancang demo di belahan dunia lain. Demo yang tidak ada persiapan yang matang secara teknis dan ideologis, hanya akan menjadi angin lalu.
Di Indonesia, ketidakadilan dan kekecewaan rakyat hanya bisa disalurkan melalui demo, yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Pemerintah. Melihat komentar-komentar para petinggi di Indonesia, agaknya demo hanya dianggap sebagai angin lalu saja.
Beberapa contoh
"Biarkan saja, nanti juga setelah mereka ga bisa makan mereka berhenti berdemo." kata wapres Jusuf Kalla ketika ditanya seorang wartawan mengenai demo kenaikan BBM.
"Silakan masyarakat berdemo, Pemerintah sudah punya latar belakang mengapa sebuah kebijakan dilakukan." kata Presiden SBY ketika ditanya mengenai maraknya demo di Indonesia.
Bagi yang ingin berdemo sih demo aja. Suarakan suara kamu. Walaupun bapak bapak petinggi kita tidak mendengar anda, paling tidak ada kepuasan bagi diri sendiri. Dan selain itu, orang lain pun bisa belajar dari ide yang anda punya. Intinya, walaupun tidak diliput oleh media secara besar-besaran, atau tidak dihiraukan oleh Petinggi negara, Demonstrasi tetap memiliki pengaruh tersendiri.